SENYUM ITU
Namaku Asta, aku seorang mahasiswa semester
tiga. Aku anak yang selalu rajin ke
vihara dan mendengarkan dhamma. Namun tidak dengan kegiatan perkuliahan. Aku
selalu malas dalam mengerjakan tugas, belajar dan mendengarkan ceramah dosen.
Satu-satunya yang membuatku semangat berangkat kuliah adalah Arin. Bisa
dibilang aku jatuh hati kepadanya. Namun cintaku bertepuk sebelah tangan,
begitulah kata teman-temanku. Zaman sekarang, sangatlah sulit mencari pasangan
hidup yang sesama buddhis apalagi secantik Arin.
Sudah menjadi hobiku setiap hari bermain bola di
lapangan dekat rumahku. Waktu itu langit terlihat kemerahan di ujung barat,
menandakan untuk menyudahi permainan sepak bolaku. Terasa letih menyertai
langkah menuju rumah ku yang tak jauh dari lapangan. Denyut jantung yang tak
karuan menjadi kebiasaan setiap sore.
“Jangan lupa belajar
yah!”
Sejenak aku terdiam
mengingat-ingat maksud dari sms yang aku terima dari Dika temanku. Dia adalah
sosok yang selalu mengingatkanku semenjak kakiku menginjak bangku perkuliahan.
“waduuuuuh”
“gawat, besok kan ujian bahasa inggris”
Bagaikan dikejar hantu,
aku pergi ke rumah Dika dengan bekal hanya membasuh muka agar tidak kelihatan
lusuh. Maklum, setiap ada kegiatan mendadak aku selalu terburu-buru.
“Dik, boleh ga aku belajar bareng kalian?” Nafas yang
terengah-engahku terdengar lebih jelas daripada kata-kataku
“Boleh…… boleh……”
“Pasti baru inget lo besok ujian yah Ta?”
Suara yang merdu itu
membawaku seakan-akan terbang mengitari bumi ini. Wajah yang selama ini aku
cintai berada di hadapanku. Yaaa….. Arin adalah wanita yang selama ini aku
taksir. Ia satu jurusan denganku dan Dika. Diantara kami bertiga ialah yang
paling pandai dalam segala hal. Pandai dalam mata kuliah serta dalam membuatku
jatuh cinta. Hampir setiap hari aku melihatnya akan tetapi rasa bosan tak
kunjung menghampiriku malah rasa cinta ini semakin bertambah.
“Rin…… mau ga kamu jadi ceweku?” Muncul kata-kata seperti
itu dalam pikiranku saat ini
“Hei Asta………..”
“Nglamun aja, katanya mau belajar bareng”
Mendengar teriakan
mereka aku jadi kaget dan langsung teringat akan hal yang membuat hatiku terasa
sesak.
“Astaaaaaaa…. Arin tuh udah jadi miliknya Dika, temenmu
sendiri” Pikiranku menjadi kacau dan tak karuan dalam diriku.
“Jadi belajar nda?” Arin bertanya kepadaku disela-sela
lamunanku.
“O iya Rin, buku bahasa inggrisku tertinggal di rumah”
“Aku pulang ambil dulu yah”
Tiba-tiba aku menjadi
tak kuasa melihat mereka berdua. Semakin lama aku melihatnya, semakin nyesek
dihati. Dengan alasan mengambil buku, aku jadi bisa menghindari hal itu. Begitu
begonya diriku membiarkan rasa cinta yang menggerogoti hatiku sekian lama.
Sunyi malam yang semakin gelap menandakan suasana hatiku. Hening, gelap dan tak
punya cahaya untuk melangkah kedepan.
………….
Hari ini aku mulai
dengan rutinitas yang biasa, menuju ke kampus dengan Dika. Karena jarak rumah
yang berdekatan, memungkinkan untuk berangkat bersama. Selain alasan nebeng
motor tentunya. Hehe. Sesampainya di kampus, terlihat Arin sedang berjalan
dengan teman-temannya. Kami berdua tak sengaja memandangnya secara serentak.
“Liat tuh Ta”
“Cantik kan si Arin?” “Cewenya siapa dulu dong”
“Dika gitu loh”
Tiba-tiba Dika bertanya
tentang Arin yang mengalihkan pandanganku terhadap Arin. Sejenak aku merasa
sedih, karena gadis yang aku pandang adalah milik orang yang ada disampingku.
“Iya….. iya….. iya…..Cantik ko”
Mahasiswa-mahasiswa
yang lalu lalang di hadapanku terasa jelas menandakan bahwa perkuliahan akan
segera dimulai. Dengan sigap aku langsung menuju ruang perkuliahan. Ya…
sekaligus menghindari percakapan yang pada endingnya menggodaku untuk segera
memilikinya. Memiliki sang kekasih yang sudah berpasangan. Orang bahasa bilang,
maksut hati memeluk gunung tapi apadaya tangan tak sampai. Peribahasa itu
sangat cocok untukku saat ini. Angan-angan hanyalah sekedar angan-angan. Memang
sakit apabila menginginkan sesuatu tetapi tak dapat memilikinya.
Rasa malas yang
menyelimutiku menuntun kedalam lamunan yang tak burujung. Tak sadar telah
berdiri didepan mejaku seorang yang sangat aku takuti, Dosen bahasa inggris.
Sejenak aku teringat bahwa hari ini kelas kami akan mengikuti ujian bahasa
inggris untuk menentukan nilai akhir semester. Begitu kagetnya ketika kertas
ujian berada di atas meja ku. Bermodalkan nekad dan semangat empat lima, aku
memulai pertempuran yang sangat menyulitkanku. Bagaimana tidak menyulitkan,
belajar saja aku tidak pernah. Sesekali aku memandang wajah Arin yang serius
mengerjakan soalnya. Sebagai penyemangat dalam pertempuranku ini, senyumanku
terkadang muncul dengan sendirinya saat menatap wajah Arin. Dikertas ujianku
terbayang senyum Arin yang manis.
“Perkuliahan hari ini saya cukupkan sekian” itulah
kata-kata yang selama ini aku tunggu.
Usai sudah ujianku hari
ini, dengan modal yang sedikit aku berharap mendapat nilai minimal diatas KKM.
Hari ini adalah hari terakhir ujian semester. Banyak rencana yang terpikirkan
untuk menyambut hari libur semester. Sempat terlintas dipikiranku untuk
mengajak Arin jalan berdua, minimal pergi ke vihara malam ini.
“Ta, ntar malem kita berangkat ke vihara bareng yuk!”
terdengar suara yang tak asing di
telingaku.
“eeh Arin”
“Boleh boleh boleh” tanpa pikir panjang aku menyetujuinya
“Tapi sebelum itu, temenin aku ke supermarket dulu yah! Aku
mau belanja buat persiapan ke Jakarta” Arin memintaku untuk menemaninya karena
Dika sedang ada keperluan.
Melihat wajahnya yang
memelas agar aku dapat menemaninya, jantungku semakin berdetak kencang tak
karuan.
“Bisa
bisa”
Bagaikan mendapat karma
baik yang sangat besar dan mimpi yang indah mendapat ajakan dari Arin. Tak
biasanya ia mengajakku pergi ke vihara bersama. Tak biasa karena setiap kali
aku berangkat ke vihara, pasti melihat arin dan dika berjalan bersama menuju
vihara yang ada didesaku.
Malam ini giliran Arin
yang berlatih dhammadesana sesusai jadwal yang telah disepakati. Sangat
mengesankan saat mendengar dhamma desana yang ia sampaikan. Ia mengulang
dhammapada syair 212 tentang perasaan. Aku menatapnya hampir tak berkedip.
Entah karena syairnya yang bagus atau karena aku sangat mencintainya. Tak hanya
aku yang terpukau, begitupula Dika yang dari tadi tak berkedip menatap sang
kekasihnya. Melihat hal itu, pikiranku menjadi melayang dan seakan-akan ingin
meninggalkan tempat dimana aku duduk sekarang. Syair dhmmapada yang dibacakan
Arin sangat sesuai dengan keadaan hatiku saat ini.
Malam terasa cepat
terlewati, hari yang panjang akan segera dimulai. Hari minggu adalah hari yang
sangat aku sukai sekaligus aku benci. Aku suka karena tidak ada perkuliahan
yang berlangsung. Aku benci karena setiap hari minggu selalu disuruh
beres-beres kamar. Hari itu sangat bersejarah dalam hidupku. Bidadari yang aku
idam-idamkan datang ke rumahku dengan wajah tersenyum manis namun penuh arti.
“bu, Asta mana?”
Suaranya terdengar
lirih menanyakan keberadaanku ke ibu yang sedang beres-beres di depan.
Mendengar suaranya, sontak aku berlari keruang depan menemuinya.
“Ada apa Rin?” Tanyaku sambil terheran-heran melihat Arin
yang terlihat rapi.
“Kamu lupa Ta? Kan hari ini aku mo ke Jakarta jenguk
nenekku. Aku ke sini untuk pamitan ke kamu. Mungkin agak lama aku disana”
Wajahku yang tadi ceria
menyambut kedatangannya sekarang pucat tak berdaya mendengar apa yang dikatakan
Arin. Sekarang aku tidak bisa melihatnya setiap hari.
“Arin, jangan pergi. Aku membutuhkanmu”
Ingin rasanya aku
berucap seperti itu. Namun semua itu hanyalah tatapanku saja. Tak berani
rasanya aku mengungkapkan perasaanku sebelum ia pergi. Suara berisik yang
ditimbulkan ibu tidaklah terdengar olehku. Hanya hembusan nafas memohon agar ia
tak pergi yang Nampak jelas ditelingaku.
“Kapan kamu kembali Rin?” aku berharap agar ia tidak lama
kembali.
“Entahlah, iya sudah aku pamit dulu yah”
Ia berbalik dariku dan
menuju luar rumah. Langkah kakinya sangat terasa mengiringi jantungku yang
berdenyut kencang. Ia semakin jauh, jauh, jauh dan semakin jauh hingga ujung
jalan yang sepi.
Kini hari-hariku aku
lalui hanya dengan sahabat baikku, Dika. Kini dia yang selalu menemaniku
bermain, bercanda, dan bergurau. Hingga suatu waktu saat liburan semester
hampir selesai, Dika menemuiku dengan nafas terengah-engah. Ia menunjukkan ada
hal penting yang harus disampaikan kepadaku. Buku yang dari tadi aku baca, aku
lempar dan langsung langkahku menuju kea rah Dika. Di teras rumahku, aku
menuntun Dika agar duduk di kursi depan.
“Tenang dulu dik, jangan terburu-buru” Sebagai sahabat aku
merasa iba melihat wajahnya yang terlihat pucat
“Ta,……” Tatapannya kepadaku penuh dengan arti
“Ta, Arin kecelakaan”
Sontak mendengar kabar
yang dibawa Dika aku terdiam tak mengeluarkan kata apapun. Bagaimana tidak,
seseorang yang aku cintai selama ini tiba-tiba mengalami kecelakaan. Walaupun
Dika adalah pacarnya. Namun ia selalu bercerita kepadaku sebagai sahabat yang
selalu menemani. Sedangkan aku hanyalah seorang pecundang yang mencintai pacar
sahabatku sendiri. Hanya diriku sendiri yang tau perasaanku terhadap Arin.
Sakit memang memendam rasa cinta selama ini. Semenjak mendengar kabar itu
hatiku berkata “aku takut kehilangan Arin”. Rasa sakit dan takut lah yang
selama ini menemaniku sepanjang hari. Hingga akhirnya aku mendengar kabar bahwa
Arin meninggal dunia dalam perang melawan rasa sakitnya di rumah sakit. Begitu
teriris hatiku saat itu, Hanya tangis yang dapat menemaninya kea lam selanjutnya.
Kenangan hanyalah
tinggal kenangan. Kenangan yang manis sekaligus menyakitkan bagi hidupku.
Terkubur rasa cintaku terhadap Arin selama ini, tak ada seorangpun yang tau bahwa
aku jatuh hati padanya. Kenangan yang
sekaligus aku anggap pengalaman itu membuatku takut mencintai seseorang. Hanya
itu yang menyelimutiku setiap langkahku.
……………….
Suatu hari, viharaku
mengundang seorang bhikkhu untuk memberikan ceramah dhamma. Saat itu aku berkeinginan
mendengarkan dhamma dari bhikkhu tersebut dengan alasan agar hatiku menjadi
tenang. Hanya beberapa kalimat yang masuk dalam pikiranku .
“Janganlah terlalu melekat dengan apa yang kita cintai”
“cinta itu suatu ketika akan membawa kita pada kesedihan
dan ketakutan dalam diri kita”
Mendengar Dhamma yang
disampaikan bhikkhu, hatiku terasa damai. Sejak saat itu, bagaikan mendapat
pencerahan. aku menjadi bersemangat untuk memulai hidupku yang baru, bangkit
dari keterpurukan. Biarlah semua itu menjadi sisi hitam dihidupku yang tertutup
rapat. Sekarang aku harus melangkah menuju masa depan yang membuat hidupku
semakin berguna bagi orang banyak.