Wednesday, 2 October 2013



                                                                          SENYUM ITU
 
Namaku Asta, aku seorang mahasiswa semester tiga.  Aku anak yang selalu rajin ke vihara dan mendengarkan dhamma. Namun tidak dengan kegiatan perkuliahan. Aku selalu malas dalam mengerjakan tugas, belajar dan mendengarkan ceramah dosen. Satu-satunya yang membuatku semangat berangkat kuliah adalah Arin. Bisa dibilang aku jatuh hati kepadanya. Namun cintaku bertepuk sebelah tangan, begitulah kata teman-temanku. Zaman sekarang, sangatlah sulit mencari pasangan hidup yang sesama buddhis apalagi secantik Arin.
Sudah menjadi hobiku setiap hari bermain bola di lapangan dekat rumahku. Waktu itu langit terlihat kemerahan di ujung barat, menandakan untuk menyudahi permainan sepak bolaku. Terasa letih menyertai langkah menuju rumah ku yang tak jauh dari lapangan. Denyut jantung yang tak karuan menjadi kebiasaan setiap sore.
“Jangan lupa belajar yah!”
Sejenak aku terdiam mengingat-ingat maksud dari sms yang aku terima dari Dika temanku. Dia adalah sosok yang selalu mengingatkanku semenjak kakiku menginjak bangku perkuliahan.
          “waduuuuuh”
          “gawat, besok kan ujian bahasa inggris”
Bagaikan dikejar hantu, aku pergi ke rumah Dika dengan bekal hanya membasuh muka agar tidak kelihatan lusuh. Maklum, setiap ada kegiatan mendadak aku selalu terburu-buru.
          “Dik, boleh ga aku belajar bareng kalian?” Nafas yang terengah-engahku terdengar lebih jelas daripada kata-kataku
          “Boleh…… boleh……”
          “Pasti baru inget lo besok ujian yah Ta?”
Suara yang merdu itu membawaku seakan-akan terbang mengitari bumi ini. Wajah yang selama ini aku cintai berada di hadapanku. Yaaa….. Arin adalah wanita yang selama ini aku taksir. Ia satu jurusan denganku dan Dika. Diantara kami bertiga ialah yang paling pandai dalam segala hal. Pandai dalam mata kuliah serta dalam membuatku jatuh cinta. Hampir setiap hari aku melihatnya akan tetapi rasa bosan tak kunjung menghampiriku malah rasa cinta ini semakin bertambah.
          “Rin…… mau ga kamu jadi ceweku?” Muncul kata-kata seperti itu dalam pikiranku saat ini
          “Hei Asta………..”
          “Nglamun aja, katanya mau belajar bareng”
Mendengar teriakan mereka aku jadi kaget dan langsung teringat akan hal yang membuat hatiku terasa sesak.
          “Astaaaaaaa…. Arin tuh udah jadi miliknya Dika, temenmu sendiri” Pikiranku menjadi kacau dan tak karuan dalam diriku.
          “Jadi belajar nda?” Arin bertanya kepadaku disela-sela lamunanku.
          “O iya Rin, buku bahasa inggrisku tertinggal di rumah”
          “Aku pulang ambil dulu yah”
Tiba-tiba aku menjadi tak kuasa melihat mereka berdua. Semakin lama aku melihatnya, semakin nyesek dihati. Dengan alasan mengambil buku, aku jadi bisa menghindari hal itu. Begitu begonya diriku membiarkan rasa cinta yang menggerogoti hatiku sekian lama. Sunyi malam yang semakin gelap menandakan suasana hatiku. Hening, gelap dan tak punya cahaya untuk melangkah kedepan.

………….
Hari ini aku mulai dengan rutinitas yang biasa, menuju ke kampus dengan Dika. Karena jarak rumah yang berdekatan, memungkinkan untuk berangkat bersama. Selain alasan nebeng motor tentunya. Hehe. Sesampainya di kampus, terlihat Arin sedang berjalan dengan teman-temannya. Kami berdua tak sengaja memandangnya secara serentak.
          “Liat tuh Ta”
          “Cantik kan si Arin?” “Cewenya siapa dulu dong”
          “Dika gitu loh”
Tiba-tiba Dika bertanya tentang Arin yang mengalihkan pandanganku terhadap Arin. Sejenak aku merasa sedih, karena gadis yang aku pandang adalah milik orang yang ada disampingku.
          “Iya….. iya….. iya…..Cantik ko”
Mahasiswa-mahasiswa yang lalu lalang di hadapanku terasa jelas menandakan bahwa perkuliahan akan segera dimulai. Dengan sigap aku langsung menuju ruang perkuliahan. Ya… sekaligus menghindari percakapan yang pada endingnya menggodaku untuk segera memilikinya. Memiliki sang kekasih yang sudah berpasangan. Orang bahasa bilang, maksut hati memeluk gunung tapi apadaya tangan tak sampai. Peribahasa itu sangat cocok untukku saat ini. Angan-angan hanyalah sekedar angan-angan. Memang sakit apabila menginginkan sesuatu tetapi tak dapat memilikinya.
Rasa malas yang menyelimutiku menuntun kedalam lamunan yang tak burujung. Tak sadar telah berdiri didepan mejaku seorang yang sangat aku takuti, Dosen bahasa inggris. Sejenak aku teringat bahwa hari ini kelas kami akan mengikuti ujian bahasa inggris untuk menentukan nilai akhir semester. Begitu kagetnya ketika kertas ujian berada di atas meja ku. Bermodalkan nekad dan semangat empat lima, aku memulai pertempuran yang sangat menyulitkanku. Bagaimana tidak menyulitkan, belajar saja aku tidak pernah. Sesekali aku memandang wajah Arin yang serius mengerjakan soalnya. Sebagai penyemangat dalam pertempuranku ini, senyumanku terkadang muncul dengan sendirinya saat menatap wajah Arin. Dikertas ujianku terbayang senyum Arin yang manis.
          “Perkuliahan hari ini saya cukupkan sekian” itulah kata-kata yang selama ini aku tunggu.
Usai sudah ujianku hari ini, dengan modal yang sedikit aku berharap mendapat nilai minimal diatas KKM. Hari ini adalah hari terakhir ujian semester. Banyak rencana yang terpikirkan untuk menyambut hari libur semester. Sempat terlintas dipikiranku untuk mengajak Arin jalan berdua, minimal pergi ke vihara malam ini.
          “Ta, ntar malem kita berangkat ke vihara bareng yuk!” terdengar suara yang tak  asing di telingaku.
          “eeh Arin”
          “Boleh boleh boleh” tanpa pikir panjang aku menyetujuinya
          “Tapi sebelum itu, temenin aku ke supermarket dulu yah! Aku mau belanja buat persiapan ke Jakarta” Arin memintaku untuk menemaninya karena Dika sedang ada keperluan.
Melihat wajahnya yang memelas agar aku dapat menemaninya, jantungku semakin berdetak kencang tak karuan.
          “Bisa bisa”
Bagaikan mendapat karma baik yang sangat besar dan mimpi yang indah mendapat ajakan dari Arin. Tak biasanya ia mengajakku pergi ke vihara bersama. Tak biasa karena setiap kali aku berangkat ke vihara, pasti melihat arin dan dika berjalan bersama menuju vihara yang ada didesaku.
Malam ini giliran Arin yang berlatih dhammadesana sesusai jadwal yang telah disepakati. Sangat mengesankan saat mendengar dhamma desana yang ia sampaikan. Ia mengulang dhammapada syair 212 tentang perasaan. Aku menatapnya hampir tak berkedip. Entah karena syairnya yang bagus atau karena aku sangat mencintainya. Tak hanya aku yang terpukau, begitupula Dika yang dari tadi tak berkedip menatap sang kekasihnya. Melihat hal itu, pikiranku menjadi melayang dan seakan-akan ingin meninggalkan tempat dimana aku duduk sekarang. Syair dhmmapada yang dibacakan Arin sangat sesuai dengan keadaan hatiku saat ini.
Malam terasa cepat terlewati, hari yang panjang akan segera dimulai. Hari minggu adalah hari yang sangat aku sukai sekaligus aku benci. Aku suka karena tidak ada perkuliahan yang berlangsung. Aku benci karena setiap hari minggu selalu disuruh beres-beres kamar. Hari itu sangat bersejarah dalam hidupku. Bidadari yang aku idam-idamkan datang ke rumahku dengan wajah tersenyum manis namun penuh arti.
          “bu, Asta mana?”
Suaranya terdengar lirih menanyakan keberadaanku ke ibu yang sedang beres-beres di depan. Mendengar suaranya, sontak aku berlari keruang depan menemuinya.
          “Ada apa Rin?” Tanyaku sambil terheran-heran melihat Arin yang terlihat rapi.
          “Kamu lupa Ta? Kan hari ini aku mo ke Jakarta jenguk nenekku. Aku ke sini untuk pamitan ke kamu. Mungkin agak lama aku disana”
Wajahku yang tadi ceria menyambut kedatangannya sekarang pucat tak berdaya mendengar apa yang dikatakan Arin. Sekarang aku tidak bisa melihatnya setiap hari.
          “Arin, jangan pergi. Aku membutuhkanmu”
Ingin rasanya aku berucap seperti itu. Namun semua itu hanyalah tatapanku saja. Tak berani rasanya aku mengungkapkan perasaanku sebelum ia pergi. Suara berisik yang ditimbulkan ibu tidaklah terdengar olehku. Hanya hembusan nafas memohon agar ia tak pergi yang Nampak jelas ditelingaku.
          “Kapan kamu kembali Rin?” aku berharap agar ia tidak lama kembali.
          “Entahlah, iya sudah aku pamit dulu yah”
Ia berbalik dariku dan menuju luar rumah. Langkah kakinya sangat terasa mengiringi jantungku yang berdenyut kencang. Ia semakin jauh, jauh, jauh dan semakin jauh hingga ujung jalan yang sepi.
Kini hari-hariku aku lalui hanya dengan sahabat baikku, Dika. Kini dia yang selalu menemaniku bermain, bercanda, dan bergurau. Hingga suatu waktu saat liburan semester hampir selesai, Dika menemuiku dengan nafas terengah-engah. Ia menunjukkan ada hal penting yang harus disampaikan kepadaku. Buku yang dari tadi aku baca, aku lempar dan langsung langkahku menuju kea rah Dika. Di teras rumahku, aku menuntun Dika agar duduk di kursi depan.
          “Tenang dulu dik, jangan terburu-buru” Sebagai sahabat aku merasa iba melihat wajahnya yang terlihat pucat
          “Ta,……” Tatapannya kepadaku penuh dengan arti
          “Ta, Arin kecelakaan”
Sontak mendengar kabar yang dibawa Dika aku terdiam tak mengeluarkan kata apapun. Bagaimana tidak, seseorang yang aku cintai selama ini tiba-tiba mengalami kecelakaan. Walaupun Dika adalah pacarnya. Namun ia selalu bercerita kepadaku sebagai sahabat yang selalu menemani. Sedangkan aku hanyalah seorang pecundang yang mencintai pacar sahabatku sendiri. Hanya diriku sendiri yang tau perasaanku terhadap Arin. Sakit memang memendam rasa cinta selama ini. Semenjak mendengar kabar itu hatiku berkata “aku takut kehilangan Arin”. Rasa sakit dan takut lah yang selama ini menemaniku sepanjang hari. Hingga akhirnya aku mendengar kabar bahwa Arin meninggal dunia dalam perang melawan rasa sakitnya di rumah sakit. Begitu teriris hatiku saat itu, Hanya tangis yang dapat menemaninya kea lam selanjutnya.
Kenangan hanyalah tinggal kenangan. Kenangan yang manis sekaligus menyakitkan bagi hidupku. Terkubur rasa cintaku terhadap Arin selama ini, tak ada seorangpun yang tau bahwa aku jatuh hati  padanya. Kenangan yang sekaligus aku anggap pengalaman itu membuatku takut mencintai seseorang. Hanya itu yang menyelimutiku setiap langkahku.
                                                                ……………….
Suatu hari, viharaku mengundang seorang bhikkhu untuk memberikan ceramah dhamma. Saat itu aku berkeinginan mendengarkan dhamma dari bhikkhu tersebut dengan alasan agar hatiku menjadi tenang. Hanya beberapa kalimat yang masuk dalam pikiranku .
          “Janganlah terlalu melekat dengan apa yang kita cintai”
          “cinta itu suatu ketika akan membawa kita pada kesedihan dan ketakutan dalam diri kita”
Mendengar Dhamma yang disampaikan bhikkhu, hatiku terasa damai. Sejak saat itu, bagaikan mendapat pencerahan. aku menjadi bersemangat untuk memulai hidupku yang baru, bangkit dari keterpurukan. Biarlah semua itu menjadi sisi hitam dihidupku yang tertutup rapat. Sekarang aku harus melangkah menuju masa depan yang membuat hidupku semakin berguna bagi orang banyak.